08172623634773 | srt55kotim@gmail.com
Ikuti Kami:
Logo SRT 55 KOTAWARINGIN TIMUR

sejarah

Sejarah SRT 55 Kotawaringin Timur berakar dari transformasi Sekolah Rakyat tahun 1946. Pada 2024, pemerintah mengembangkan konsep Sekolah Rakyat Terintegrasi sebagai pendekatan pengentasan kemiskinan melalui pendidikan berasrama yang menggabungkan aspek akademik, kesehatan, dan pembinaan karakter. Pada 2025, SRT 55 mulai dirintis di Komplek Islamic Center Sampit sebagai lokasi sementara, sambil menunggu pembangunan lokasi permanen di kawasan Wengga Metropolitan. Sekolah ini menjadi bagian dari pembangunan 200 Sekolah Rakyat nasional dan membuka angkatan pertama berjumlah 100 siswa pada Juli 2025. Program akademik, asrama, dan kegiatan pembiasaan berjalan sejak Oktober 2025, disertai penyempurnaan sarana prasarana pada November 2025. Pada Oktober–November 2025, penguatan tenaga pendidik dilakukan di bawah kepemimpinan Nikkon Bhastari, M.Pd, sehingga SRT 55 mulai beroperasi penuh sebagai sekolah rakyat modern berasrama bagi anak-anak dari keluarga miskin.

1.     1946 (Transformasi Sekolah Rakyat Nasional)

Pemerintah Republik Indonesia resmi mengadopsi konsep Sekolah Rakyat sebagai upaya membuka akses pendidikan dasar bagi seluruh lapisan masyarakat, terutama keluarga kurang mampu.

2.     2024 (Kebijakan Sekolah Rakyat Modern)

Pemerintah melalui program pengentasan kemiskinan nasional merancang model Sekolah Rakyat Terintegrasi, sebuah sekolah berasrama dengan pendidikan, kesehatan, dan pembinaan karakter yang terpadu untuk anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem.

3.     2025 (Perintisan Sekolah Rakyat Terintegrasi 55 Kotawaringin Timur)

Sebagai bagian dari target nasional pembangunan 200 Sekolah Rakyat, SRT 55 Kotawaringin Timur mulai dirintis di Komplek Islamic Center Sampit, Kalimantan Tengah, dengan fokus utama menyediakan pendidikan gratis, berasrama, dan berkarakter.

4.     Juli 2025 (Pembukaan dan Penerimaan Peserta Didik Pertama)

SRT 55 resmi menerima angkatan pertama sebanyak 100 siswa (50 SD dan 50 SMA), dengan rombongan belajar 5 kelas SD dan 2 kelas SMA. Sekolah mulai menjalankan program persiapan, pembiasaan, dan kurikulum akademik.

5.     Agustus 2025 (Penguatan Sistem Akademik dan Asrama)

Tahap awal operasional ditandai dengan penerapan tiga pilar pendidikan: persiapan, akademik, dan asrama. Pembinaan karakter, kemandirian, ibadah pagi, literasi, dan FGD mulai berjalan terstruktur.

6.     September 2025 (Pelengkapan Sarana dan Prasarana)

Asrama putra–putri, ruang makan, dapur bersih, laboratorium IPA dan komputer, perpustakaan, UKS, dan pos keamanan diresmikan untuk mendukung pembelajaran dan kehidupan berasrama.

7.     Oktober-November 2025 (Penguatan Tenaga Pendidik dan Kependidikan)

Guru-guru profesional serta tenaga wali asrama, wali asuh, operator sekolah, dan tim pendukung lainnya mulai bertugas, dipimpin oleh Kepala Sekolah Nikkon Bhastari, M.Pd, peraih berbagai penghargaan guru berprestasi tingkat kabupaten dan provinsi.